skip to main | skip to sidebar

Pages

Kamis, 04 November 2010

P R A Y F O R I N DO N E S I A *

0 komentar
REPUBLIKA.CO.ID, PADANG--Korban tewas akibat tsunami yang terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, kini telah menembus jumlah 108 orang. Sedangkan jumlah orang yang hilang sebanyak 502 orang.

Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Anto Rizon, mengatakan, jumlah korban masih tentatif karena hingga saat ini masih dalam proses pendataan.

“Kemungkinan korban akan terus bertambah,” ujar Anto yang dihubungi Republika melalui telepon genggamnya, Selasa (26/10) petang.

Banyaknya korban tersebut, disebabkan tsunami terjadi di waktu malam saat warga sedang tertidur. Sehingga kurang tanggap menghadapi kondisi darurat, meski didahului gempa berkekuatan 7,2 skala richter (SR) pada Senin (25/10) pukul 21.40 WIB.

Sekitar 20 menit kemudian, tsunami dengan ketinggian 4-6 meter menggulung warga yang umumnya tinggal di pesisir pantai. “Tsunami mencapai daratan sejauh 600 meter dari garis pantai,” lanjutnya.

Anto memaparkan, korban tsunami berasal dari 10 nagari yang termasuk dalam empat kecamatan pada Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumbar. Kecamatan tersebut yaitu Pagai Utara, Pagai Selatan, Sipora, dan Sikakap. Sekitar 640 kepala keluarga kini telah berada di tempat-tempat pengungsian yang telah ditentukan sebelumnya oleh pemerintah.

Meski kondisi daerah yang sulit, namun pihaknya telah melakukan proses evakuasi. Tenda-tenda pengungsian dan bantuan makanan juga telah diberikan. Sedikitnya 640 kepala keluarga tinggal di tempat-tempat pengungsian tersebut.
“Proses evakuasi masih berlangsung, termasuk mencari korban yang belum ditemukan,” ucapnya.

Sementara itu, data terakhir yang dilansir Kementerian Kesehatan mencatat korban yang tewas akibat tsunami sebanyak 113 orang dan 150 orang yang hilang.






Gunung Merapi memuntahkan awan panas lagi pada Kamis sore pukul 16.40 WIB kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo di Yogyakarta

Awan panas kali ini tergolong masih cukup kecil dengan radius luncuran mencapai sekitar 3,5 kilometer (km) dari puncak Gunung Merapi.

Luncuran awan panas tersebut akan diikuti dengan munculnya magma dan pembentukan kubah lava baru yang belum terlihat pasca letusan pertama lalu.

berikan saudara-saudara kami kekuatan dalam menghadapi segala cobaan-Mu ya Tuhan :'(




Jumat, 27 Agustus 2010

Indonesia dan kemiskinan

0 komentar

Jakarta - Pada mulanya adalah kemiskinan. Lalu pengangguran. Kemudian kekerasan dan kejahatan [crime]. Martin Luther King [1960] mengingatkan, "you are as strong as the weakestof the people." Kita tidak akan menjadi bangsa yang besar kalau mayoritas masyarakatnya masih miskin dan lemah. Maka untuk menjadi bangsa yang besar mayoritas masyarakatnya tidak boleh hidup dalam kemiskinan dan lemah.

Sesungguhnya kemiskinan bukanlah persoalan baru di negeri ini. Sekitar seabad sebelum kemerdekaan Pemerintah Kolonial Belanda mulai resah atas kemiskinan yang terjadi di Indonesia [Pulau Jawa]. Pada saat itu indikator kemiskinan hanya dilihat dari pertambahan penduduk yang pesat [Soejadmoko, 1980].

Kini di Indonesia jerat kemiskinan itu makin akut. Jumlah kemiskinan di Indonesia pada Maret 2009 saja mencapai 32,53 juta atau 14,15 persen [www.bps.go.id]. Kemiskinan tidak hanya terjadi di perdesaan tapi juga di kota-kota besar seperti di Jakarta. Kemiskinan juga tidak semata-mata persoalan ekonomi melainkan kemiskinan kultural dan struktural.

Pertanyaannya seberapa parah sesungguhnya kemiskinan di Indonesia? Jawabannya mungkin sangat parah. Sebab, kemiskinan yang terjadi saat ini bersifat jadi sangat multidimensional. Hal tersebut bisa kita buktikan dan dicarikan jejaknya dari banyaknya kasus yang terjadi di seluruh pelosok negeri ini.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~v.i.n.a~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~